Reformasi Pendidikan, Siswa Perlu Eksperimen

WWW.INFOKEMENDIKBUD.ONLINE _Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim bertekad melakukan reformasi pendidikan di Tanah Air. Selama ini dunia pendidikan di Indonesia telah tertidur cukup lama dan hanya menjadi penonton saja.

Salah satu yang ditekankan Nadiem adalah siswa perlu melakukan eksperimen untuk mencari inovasi yang terbaik. Dia menyesalkan, banyak pihak yang mengatakan tidak perlu melakukan eksperimen, justru lewat eksperimen akan memunculkan inovasi.

“Saya paling kesal orang-orang yang mengatakan edukasi jangan dijadikan eksperimen. Lalu bagaimana kita akan mengimprovisasi? Satu-satunya cara mengimprovisasi sistem apa pun adalah dengan inovasi,” kata Nadiem

Menurutnya, dengan dengan melakukan percobaan atau eksperimen, baik nantinya berakhir dengan kegagalan atau kesuksesan pada titik akhirnya memunculkan inovasi yang sempurna.

Sesal Nadiem, selama ini sistem pendidikan tidak berjalan dengan sempurna di mana inovasi yang gagal ditinggalkan dan tidak dipakai lagi. Padahal, kegagalan itu bisa disempurnakan dengan terus melakukan ekperimen.

Apalagi, lanjut mantan bos Gojek itu, sistem pendidikan Indonesia saa ini lebih banyak mengurusi adminisrasi pendidikan dan birokrasi yang mendiraksi guru melakukan tugasnya. Nah, kondisi demikian inovasi siswa menjadi diam di tempat dan tidak berkembang.


“Kalau kita hanya diam di tempat akan semakin tidak relevan institusi pendidikan kita dan apa yang diajarkan kepada anak muda kita. Sedangkan risiko terendah adalah mencoba hal-hal baru dan mengundang civil society untuk mencoba dan berpartisipasi dalam sistem pendidikan,” tutur dia.

Terkait sisem pendidikan di Indonesia, Ketua Umum Pengurus Pusa Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim mengusulkan 10 usulan perubahan kurikulum dalam sebagai upaya revolusi pendidikan dasar dan menengah di Tanah Air.

Pertama, bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris dan pendidikan karakter berbasis agama dan pancasila menjadi mata pelajaran utama di Sekolah Dasar dan karena itu, pembelajaran bahasa Inggris di SMP dan SMA dihapuskan karena seharusnya sudah dituntaskan di SD. Pembelajaran bahasa Inggris fokus ke percakapan, bukan tata bahasa.

Kedua, jumlah mata pelajaran di SMP menjadi maksimal lima mata pelajaran (mapel) dengan basis utama pembelajaran pada coding dan di SMA menjadi maksimal 6 mapel tanpa penjurusan lagi mereka yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilahkan memilih SMK.

Ketiga, pendidikan SMK yang pada keahlian maka harus menggunakan sistem SKS, sehingga siswa yang lebih cepat ahli bisa menuntaskan SMK dua tahun atau kurang. Sementara siswa yang lambat bisa saja sampai 4 tahun dan ujian kelulusan SMK pada keahliannya bukan pada pelajaran normatif dan adaptif.

Keempat, jabatan pengawas sekolah dihapuskan hingga jumlah guru yang dibutuhkan mencukupi. Menurutnya, jabatan pengawas sekolah boleh diadakan kembali jika jumlah kebutuhan guru sudah terpenuhi, tidak ada lagi guru honorer dan semua guru sudah berstatus PNS atau Guru Tenaga Kontrak Profesional dalam Status PPPK dengan pendapatan minimal setara upah minimum yang ditetapkan pemerintah sesuai standar kelayakan hidup.

Kelima, seluruh beban administrasi guru dibuat dalam jaringan (online) dan lebih disederhanakan, RPP cukup 1-2 halaman tapi jelas tujuan dan aplikasi pembelajarannya, tak ada lagi berkas administrasi dalam bentuk hard copy, verifikasi keaslian dilakukan secara acak dengan kewajiban menunjukkan berkas asli, bukan foto copy.

Keenam, pengangkatan guru berdasakan kompetensi dan kebutuhan kurikulum yang nantinya dibuat. uji komptensi guru wajib dilaksanakan minimal sekali dalam tigas tahun. Ketujuh, penghapusan sistem honorer sehingga tak ada lagi guru yang mengisi ruang kelas yang statusnya tidak jelas.

Kedelapan, bimbingan teknologi harus ditiadakan dan diganti dengan vidoe tutorial dengan kewajiban uji secara acak terhadap pemahaman kurikulum. Kesembilan, anggaran pelatihan guru dialihkan untuk rekruitmen guru. Organisasi profesi guru diberikan legalitas dalam melaksanakan upaya peningkatan kompetensi guru, pemerintah cukup melakukan uji terhadap standar kompetensi guru yang diinginkan.

Terakhir, mengatur kembali penentuan sekolah daerah tertinggal-terpencil-terdepan-terkebelakang sesuai kondisi sekolah, bukan berdasarkan data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. 
loading...

Belum ada Komentar untuk "Reformasi Pendidikan, Siswa Perlu Eksperimen"

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel